17 Adab dan Etika Mendaki Gunung, Pendaki Wajib Tahu!

JELAJAHGUNUNG.COM, Adab dan etika harus dijaga di manapun kita berada. Tidak terkecuali saat mendaki gunung. Pendaki harus pandai menjaga adab dan etika. baik pada sesama pendaki, lingkungan/ alam maupun penghuni gunung itu sendiri.

Di gunung memang tidak ada pemerintahan. Dan kita tahu bahwa gunung merupakan alam bebas (liar). Namun tidak berarti bahwa hidup di gunung bebas semaunya tanpa aturan.

Aturan itu di mana pun tetap ada.

Namun ada yang tersurat dan dikawal oleh penegak aturan, ada juga yang tersirat yang tanpa pengawalan manusia. Contohnya ya seperti di gunung.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, di gunung juga sebetulnya ada pihak yang menerapkan dan mengawal aturan. Misalnya petugas basecamp, BKSDA dan/atau kuncen (juru kunci).

Adab dan etika mendaki gunung

Apa saja adab dan etika mendaki gunung? Inilah beberapa adab dan etika mendaki yang wajib pendaki tahu.

1. Pemanasan

Biasakan melakukan peregangan/ pemanasan sebelum mulai pendakian.

2. Berdo’a

Berdo’a setelah melakukan pemanasan, minta perlindungan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mahluk yang hidup di gunung bukan hanya pendaki, tetap ada banyak baik yang dohir maupun gaib.

Mahluk dohir seperti manusia, tumbuhan dan binatang endemik. Sedangkan yang gaib, yaitu setan dan jin.

3. Berjalan tertib

Biasakan berjalan satu jalur di lajur kiri (jalan semut), kecuali kalau jalur luas dan kosong. Intinya jangan sampai perjalanan kita menghalangi jalan pendaki lain. Baik yang akan naik maupun turun gunung.

Adab dan etika mendaki gunung
Jalur pendakian lebar dan kosong, bisa jalan berdampingan sambil ngobrol

4. Alon asal kelakon

Tidak dibenarkan naik gunung sambil balapan (apalagi sambil tinju), kemudian saling meninggalkan.

Rombongan harus dalam satu barisan di bawah komando leader. Naik lengkap, turun pun harus lengkap.

Apabila ada teman yang kecapean sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan, dia TIDAK boleh ditinggalkan. Lihat kondisi jangan dipaksakan muncak karena puncak tidak akan ke mana. Istirahatlah, cari tempat yang laik untuk memasang shelter/mendirikan tenda.

Jika kondisinya memang darurat sebagian turun ke pos untuk minta bantuan. Sebagian lagi jagain teman yang sakit atau kelelahan.

Banyak kasus pendaki hilang dan meninggal di gunung karena ditinggal oleh rombongannya.

5. Bantu teman kamu

Bantulah jika ada teman yang kelelahan. Berikan bantuan ‘sewajarnya’, jangan sekali pun memanfaatkan situasi, terutama pada pendaki perempuan. Jagalah mereka seperti menjaga saudarimu sendiri.

6. Berbagi

Berbagilah, jangan pelit misalnya makanan atau air minum. Tapi jangan berbagi karena ingin dipuji sampai kamu melupakan diri sendiri.

7. Selalu berpartisipasi

Selalu berpartisipasi dalam hal apapun yang bersifat kelompok. Misalnya ketika mendirikan tenda atau memasak. Jangan nonton kayak mandor. Lakukan apa yang kita bisa, tidak perlu nunggu disuruh.

8. Tidak buang sampah di gunung

Kalau masih suka foto-foto pake kertas buat kirim-kirim salam di gunung, bekasnya masukin ransel bawa pulang. Jangan buang sampah di gunung.

Buanglah mantan pada tempat sampah. Eeeh… buanglah sampah pada muka mantan. Aduh, salah lagi. Buanglah sampah pada tempatnya. Gunung bukan tempat sampah.

9. Sopan

Kalau mau foto bareng pendaki lain, mintalah dengan sopan jangan slonong boy.

10. Tidak berisik

Diusahakan tidak membawa box music. Apabila mau nyetel musik, jangan terlalu kencang agar tidak berisik, mengganggu kenyamanan orang lain dan ketenangan lingkungan sekitar.

Baca juga: 5 Alasan kenapa tak boleh bawa box music ke gunung

11. Tidak cari perhatian

Tidak boleh teriak-teriak untuk mencari perhatian, baik siang hari maupun malam hari.

Banyak kejadian, di dalam tenda berisik ngomong kasar tidak karuan sampai tenda sebelah tidak bisa tidur. Mereka cape, butuh istirahat dan ketenangan.

Maka saling menghargailah karena ketika ditegur itu pasti tidak enak.

Halaman selanjutnya >>

BERIKAN ULASAN, UPDATE ATAU KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here